Anak Bermain Kotor-kotoran ? Yey Or Ney

Anak Bermain Kotor-kotoran ? Yey Or Ney
anak-bermain-kotor-kotoran
Saya bersyukur, di usia Wan yang hampir 3 tahun rasa ingin tahunya sangat tinggi. Keingintahuannya terlihat dari sering bertanya terhadap apa yang dilihatnya. Kadang sampai membuat saya kewalahan untuk menjawabnya. Selain itu Wan juga antusias mencoba hal baru. Meski kadang malu-malu, sedikit takut bahkan geli namun pada akhirnya dia berani mencoba. Termasuk ketika bermain kotor-kotoran baik dengan air, tanah dan pasir.



Untuk mengijinkan Wan bisa leluasa bermain kotor-kotoran ternyata bukan perkara mudah. Bagi saya yang menganggap apapun merupakan sarana belajar asalkan tidak membahayakan ternyata tak di amini lingkungan. Bagi ibu mertua, melihat cucunya kotor adalah sesuatu yang tidak pantas dilihat. Belum lagi lingkungan sekitar yang berpendapat bermain kotor-kotoran sesuatu yang menjijikan. Bahkan ada yang berpendapat stereotif bahkan bermain air dan tanah merupakan permainan anak perempuan yang tak layak bagi anak laki-laki khususnya Wan. Perlu telinga ini untuk kebal dan mensuport Wan untuk tetap berani bermain kotor-kotoran.

Sebenarnya jika mengijinkan anak untuk bermain kotor-kotoran banyak sekali yang didapat baik anak maupun si emak. Bagi si emaknya sih sederhana saja bisa melihat anak asyik bermain dan sekaligus memberikan feedback terhadap apa yang dimainkan sudah merupakan sesuatu yang membahagiakan. Tetapi bagi anak bukan hanya bahagia ketika mereka bebas bermain dengan kotor-kotoran.
Setidaknya ada beberapa poin mengapa saya  Yey ketika anak bermain kotor-kotoran :
1. Stimulasi motorik halus anak. Ketika anak bermain kotor-kotoran terutama becek dari tanah dan air tangan anak akan mengenal berbagai tekstur benda. Dari mulai tanah, air, tekstur lembek keras dan sebagainya. Berbagai tekstur tersebut perlu dikenalkan pada anak dan akan menguatkan otot tangan anak. Selain itu berfungsi menunjang kekuatan otot tangan ketika anak mulai belajar menulis.
2. Merangsang kreativitas. Ketika bermain kotor-kotoran banyak hal yang bisa dilakukan anak. Mereka bisa berimaginasi menjadi dan membuat apapun yang diinginkan. Bisa dengan membuat aneka bangunan. Menjadi koki dengan berbagai masakan dan masih banyak lagi.
3. Berani mencoba. Dengan bermain kotor-kotoran anak akan mencoba untuk bermain sesuatu yang baru baginya. Pada awalnya anak akan merasa jijik. Namun kelamaan anak akan merasa nyaman. Dan dengan pengalamannya tersebut maka akan berani mencoba sesuatu yang baru lagi tak hanya tentang bermain kotor-kotoran.

Saya pribadi sebagai ibu sempat ragu untuk mengijinkan Wan bermain kotor-kotoran. Bukan pada takut baju anak menjadi kotor dan sulit mencucinya tapi lebih pada kesehatan Wan. Apalagi ketika Wan sempat mengalami disentri. Berdasarkan dokter yang memeriksanya, disentri Wan disebabkan oleh kuman salah satu akibat bermain tanah. Namun mencegahnya bermain kotor-kotoran bukanlah solusi yang tepat. Maka saya lebih memilih tetap mengijinkan Wan mengeksplore lingkungan namun dengan tetap memperhatikan beberapa hal.

Ada beberapa hal yang saya lakukan agar tetap yakin mengijinkan Wan bermain kotor-kotoran.
1. Bermain dengan pendampingan. Namanya anak kecil belum bisa membedakan mana bahaya bagi dirinya dan tidak. Maka ketika bermain kotor-kotoran saya akan mendampinginya. Biasanya saya lebih suka ikut bermain dan sekaligus memberikan umpan balik positif bagi Wan. Bisa juga selain itu saya juga sering menjadi pemain misalnya menjadi pembeli ketika Wan bermain berdagang.
2. Menanyakan apakah Wan sudah cukup bermain. Yang namanya anak kecil daya ingin tahunya sangat tinggi. Biasanya untuk menghindari akan bermain lagi setelah dibersihkan maka saya tanyakan dulu sebelum mengajaknya berhenti. Biasanya Wan kalo sudah merasa puas akan berhenti bermain dan minta dibersihkan.
3. Segera membersihkan setelah anak selesai main. Jadi yang jadi PR setelah main kotor-kotoran yaitu membersihkan Wan agar bebas dari kuman. Yang terpenting adalah membersihkan tangannya dengan menggunakan sabun. Selain itu saya juga memeriksa kukunya kira-kira mana yang panjang dan berpotensi dimasuki oleh kuman.
4. Merendam baju yang dipakai main kotor-kotoran. Untuk main kotor-kotoran maka biasanya saya meredam baju Wan terlebih dahulu. Selain mudah dibersihkan juga untuk menghilangkan kuman yang menempel. Oh ya kalo dianggap perlu bisa juga memakai cairan antiseptic ya.

Dengan beberapa langkah diatas saya semakin yakin Yey saja ketika Wan bermain kotor-kotoran. Tak perlu takut kuman apalagi sampai sakit lagi. Selama langkah yang kita lakukan benar untuk menjaga kebersihannya anak akan nyaman saja bermain kotor-kotoran. Dengan begitu anak dapat senang bermain dan belajar lebih banyak lagi dimasa kecilnya.

Parenting

14 Komentar untuk "Anak Bermain Kotor-kotoran ? Yey Or Ney"

  1. Nice sharing mbak 👍👍👍 Kadang yg bikin enggan membiarkan anak main kotor2an, emaknya males bebersihnya 🤣

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyaa mbak, emang sikap malas emak harus dihilangkan

      Hapus
  2. Betul nih Mbak, asalkan kita bisa menjaga anak dengan baik, mau mainan yang agak kotor ya gak masalah.

    BalasHapus
  3. Inget adek laki2ku wktu msh kecil. Sampe nguras ternak lele tetangga saking demennya main kotor. Hehe

    BalasHapus
  4. Saya termasuk yang Yay. Malah seringkali ikutan hehehe. Paling dikasih rambu-rambu aja, misalnya jangan sampai masuk ke mulut :)

    BalasHapus
  5. Sekedar berbagi mbak, dulu anak pertama saya suka dilarang oleh bapaknya kalau mau main kotor2an. Bapaknya maunya bersih aja terus. Sekarang di usia remajanya dia jadi jijikan dan tdk bebas mengeksplorasi alam seperti teman2nya. Nah belajar dari itu, sekarang saya bebaskan anak ke 2 bermain kotor2an😁

    BalasHapus
  6. Yang penting bergerak ditempat aman karena baik untuk perkembangan motorik anak2.

    BalasHapus
  7. Aku yay mbk. Cm sambil diawasin bgd sih atw kdg aku ikutan juga. Asyik koq ternyata. Soal dampaknya misalnya kotoran baju jd bandel atau rmh jd kotor mah nggak masalahlah ya mbk.

    BalasHapus
  8. Yang anak pertama..aku agak protektif dl mba.. ayahnya terutama. Jarang dia maen di tanah. Jadi anak pertama itu tipikal bersih...makanan juga dl dikit2 ga boleh...

    Anak ke dua, lebih kendor aku mba. Main malah sering di belakang rumah, pasaran pke air-botol-tanah. Maeman juga ga riwil.

    Tapi pas agak gedean beda mb. Yang kecil, jijik an..riwil klo bahasaku. Klo yang kecil, cuek dia.. asal kelar maen mandi, kan nanti juga bersih lagi. Setelah mandi..stop main airnya.

    Makanan..yang kecil lebih gampang. Apa2 mau..ga picky.

    BalasHapus
  9. berarti bener ya mbak kata iklan : berani kotor itu baik? hehe
    Kalo saya sih yes #ntar kalo punya anak

    BalasHapus
  10. yay sih, tapi mungkin ttp harus diawasi ya *blm punya anak

    BalasHapus
  11. Saya sih jelas "yay" banget kalau anak saya kepingin main kotor-kotoran. Tapi sebelumnya saya udah waspada, sebelum main itu saya siapin dia baju bersih. Terus deket-deket tempat mainnya sudah saya cariin tempat bilas untuk bersih-bersih.
    Dan, anaknya sudah saya imunisasi plus saya kasih gizi yang banyak juga, supaya ketika main kotor-kotoran itu dia nggak kena kuman penyakit :)

    BalasHapus
Kebijakan Berkomentar di Blog Aniskhoir.com
  • Komentar harus sesuai dengan judul artikel.
  • Tidak diperbolehkan untuk mempromosikan barang atau berjualan.
  • Dilarang mencantumkan link aktif di komentar.
  • Komentar dengan link aktif akan otomatis dihapus
  • *Berkomentarlah dengan baik, Kepribadian Anda tercemin saat berkomentar.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel